Beberapa Contoh Penjagaan Allah dalam Kehidupan Dunia
Barangsiapa yang menjaga Allah, menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan di masa muda, Allah akan menjaga badannya di masa tua. Abut Thoyyib atThobary yang berusia melewati 100 tahun masih memiliki kekuatan yang luar biasa. Pernah suatu ketika ia melompat dari perahu ke tepi daratan, sehingga orang-orang di sekelilingnya mengkhawatirkan keadaanya yang sudah tua. Tapi beliau mengatakan : Tubuhku ini aku jaga dari kemaksiatan sejak muda, sehingga Allah menjaganya ketika aku sudah tua (Jaami’ul Uluum wal Hikaam (1/186))
Para Ulama’ Allah jaga kekuatan hafalan, pemahaman, dan kefaqihannya di usia yang sudah sangat tua, di saat orang-orang lain seusianya sudah banyak yang lupa bahkan tidak mengenal lagi anak-anak dan orang terdekatnya.
Suwaid bin Ghoflah –salah seorang tabi’i yang pernah mengambil ilmu dari Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali- masih kuat hafalannya dan menjadi imam pada sholat tarawih di bulan Romadhan pada saat usianya sudah 120 tahun (riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’ (4/175)).
Harta kedua anak yatim dijaga Allah melalui perbuatan Nabi Khidhr yang menegakkan dinding rumahnya yang miring, sedangkan di bawah dinding tersebut terdapat simpanan harta mereka (Qur’an surat al-Kahfi ayat 82). Nabi Khidhir menyatakan bahwa ayah kedua anak yatim itu adalah orang yang sholeh. Para Ulama’ menjelaskan bahwa inilah bukti bahwa keshalehan dan ketakwaan dari seseorang menjadi sebab Allah akan menjaga dirinya dan keturunannya.
Jika Engkau Meminta, Mintalah Kepada Allah
Ini adalah pengajaran tauhid dari Nabi. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan hanya kepada Allah.
Serupa dengan bacaan dalam alFatihah yang selalu diulang oleh setiap orang yang sholat pada setiap rokaatnya:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan (Q.S alFatihah:5)
Sebagaimana kita menyembah hanya kepada Allah, maka meminta pertolongan juga hanya kepada Allah.
Apakah kita tidak boleh meminta pertolongan kepada selain Allah? Ya, untuk permintaan pertolongan yang hanya Allah saja yang bisa memenuhinya, maka wajib bagi seseorang untuk meminta pertolongan itu hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain. Seperti : permohonan ampunan, meminta dikaruniai anak, panjang umur, kesembuhan dari penyakit, jodoh, ketentraman hati, keselamatan dunia dan akhirat, hidayah (taufiq), dan semisalnya. Hal-hal semacam ini hanya Allah saja yang bisa memenuhi. Meminta hal-hal semacam itu kepada selain Allah adalah kesyirikan, sebagaimana dijelaskan oleh para Ulama’ dalam kitab-kitab tentang aqidah.
Sedangkan meminta pertolongan untuk sesuatu yang bisa dipenuhi oleh makhluk, karena Allah taqdirkan mereka memiliki kemampuan itu, yang demikian adalah diperbolehkan. Contoh: meminta tolong kepada seseorang untuk membantu mengangkatkan barang bawaan ke atas kendaraan.
وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ
Dan menolong membantu mengangkat seseorang ke atas kendaraannya, atau mengangkatkan barang bawaannya ke atas kendaraan adalah shodaqoh (H.R Muslim)
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Dan saling tolong menolonglah dalam kebajikan dan taqwa, jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan (Q.S al-Maaidah:2)
Meski kita meminta pertolongan kepada seseorang yang mampu mengerjakannya, namun kepasrahan dan ketawakkalan hati hanya kepada Allah, karena hanya Dialah saja yang Maha Berkuasa di atas segala sesuatu. Jika tidak Allah kehendaki, maka upaya makhluk apapun, sebesar apapun, tak akan bisa membantu kita mendapatkan yang kita harapkan.
Bahkan, dalam hal-hal yang remeh sekalipun, meski tali sandal putus, seorang muslim hendaknya meminta ganti kepada Allah dalam doanya, dengan berupaya (ikhtiar) sesuai kemampuannya.
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
Mintalah kepada Allah segala sesuatu, sampai-sampai tali sandal, karena sesuatu yang tidak diberi kemudahan oleh Allah tidaklah berjalan dengan mudah (riwayat Abu Ya’la)
Jika makhluk sering diminta akan marah (karena memiliki banyak kekurangan), sebaliknya Tuhan kita Allah Yang Maha Kaya akan murka jika seseorang hamba tidak meminta kepadaNya.
مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, Allah murka kepadanya (H.R atTirmidzi, dihasankan oleh Syaikh al-Albany)
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا مَأْثَمٌ وَ لاَ قَطِيْعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِحْدَى ثَلاَثٍ : إِمَّا أَنْ يَسْتَجِيْبَ لَهُ دَعْوَتَهُ أَوْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا أَوْ يَدَّخِرَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلَهَا قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِذًا نُكْثِرُ قَالَ : اللهُ أَكْثَرُ
Tidaklah seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturrahmi, kecuali akan diberikan kepadanya salah satu dari 3 hal: bisa jadi Allah akan kabulkan doanya(di dunia), atau Allah palingkan (jauhkan) darinya keburukan yang setara dengan hal yang diminta, atau Allah simpan sebagai perbendaharaan pahala semisalnya di akhirat. Para Sahabat berkata: Wahai Rasulullah, kalau demikian kami akan memperbanyak (doa), Rasul bersabda: Allah lebih banyak lagi (mengabulkan)(H.R atTirmidzi,Ahmad, alHakim, al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany).
Iman terhadap Taqdir
Dalam hadits ini, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan tentang iman terhadap taqdir yang telah Allah tuliskan. Seharusnya seseorang bergantung dan bertawakkal hanya kepada Allah. Tidak akan ada kebaikan yang bisa sampai pada seseorang kecuali jika telah Allah takdirkan, meski seluruh makhluk berkumpul mengupayakannya. Sebaliknya, tidak akan terjadi musibah, kecelakaan, atau bahaya bagi seseorang jika tidak Allah takdirkan, meski seluruh makhluk berkumpul untuk mengupayakannya.
عَنْ أَبِي حَفْصَةَ قَالَ قَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي
Dari Abu Hafshah beliau berkata: Ubadah bin as-Shomit radhiyallahu anhu berkata kepada anaknya: Wahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan merasakan hakikat iman sampai engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang terluput darimu tidak akan menimpamu. Saya mendengar Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Kemudian Ia berfirman: Tulislah. Pena bertanya: Wahai Tuhanku, apa yang aku tulis. Allah berfirman: Tulislah takdir-takdir segala sesuatu sampai hari kiamat. Wahai anakku aku mendengar Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang meninggal di atas (akidah) selain ini, maka ia bukanlah dariku (pengikutku)(H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany).
Nabi tidak mengajarkan kepada kita untuk bersikap malas, berpangku tangan dan beralasan bahwa takdir telah tertulis. Namun justru beliau mengajarkan kepada kita untuk bersemangat beramal dan berbuat untuk mendapatkan hal-hal yang bermanfaat bagi kita sambil meminta pertolongan kepada Allah. Jika ternyata terjadi hal-hal yang terluput dari kita meski kita telah berusaha, hendaknya mengucapkan : Qoddarallahu wa maa sya-a fa’al (Allah telah mentakdirkan, dan Ia berbuat sesuai dengan kehendakNya). Tidak justru mengatakan: Duh, seandainya saya tidak berbuat begini..niscaya tidak akan begini… Yakinlah bahwa semua sudah ditakdirkan dan apa yang ditakdirkan Allah adalah terbaik bagi kita.
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Bersemangatlah (untuk melakukan) hal-hal yang bermanfaat untukmu dan mintalah pertolongan kepada Allah serta jangan merasa lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu jangan mengatakan: Kalau seandainya aku melakukan demikian, niscaya akan terjadi demikian. Akan tetapi ucapkanlah: Allah telah mentakdirkan, dan Ia berbuat sesuai dengan yang dikehendakiNya. Karena ucapan :’kalau seandainya’ akan membuka amalan syaithan (H.R al-Bukhari dan Muslim)
Kaum muslimin diajarkan bahwa pada setiap kesulitan terdapat kemudahan. Bahkan, pada 1 kesulitan akan terdapat 2 kemudahan.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (Q.S al-Insyirah:5-6)
Para Ulama’ menjelaskan bahwa 2 ayat tersebut bukanlah sekedar pengulangan yang berarti penegasan, namun merupakan isyarat bahwa pada 1 kesulitan terdapat 2 kemudahan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Umar bin al-Khotthob yang menulis surat pada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah:
مَا يَنْزِلُ بِعَبْدٍ مُؤْمِنٍ مِنْ مَنْزِلِهِ شِدَّةٌ إِلاَّ يَجْعَلُ اللهُ لَهُ بَعْدَهَا فَرْجًا وَ لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ
Tidaklah turun suatu kesulitan pada seorang hamba mukmin di tempat tinggalnya kecuali Allah akan buatkan setelahnya jalan keluar dan 1 kesulitan tidak akan bisa mengalahkan 2 kemudahan (diriwayatkan al-Hakim dan menurut adz-Dzahaby shahih berdasarkan syarat Imam Muslim)
Kenalilah Allah di Masa Lapang, Niscaya Allah akan Mengenalimu Di Masa
Di dalam riwayat hadits yang lain, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
Kenalilah Allah di masa lapang (senang), niscaya Allah akan mengenalimu di masa engkau menghadapi kesulitan (dishahihkan oleh Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jaami’)
Makna hadits tersebut adalah : ingatlah selalu Allah (banyak berdzikir), banyak bersyukur terhadap nikmat-nikmatnya, banyak beribadah, dan banyak berdoa di masa-masa kita mendapatkan kelapangan hidup/ kesenangan, niscaya di saat kita mengalami kesusahan dan kesempitan Allah akan mengenali kita dan menolong kita
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرْ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ
Barangsiapa yang senang (ingin) Allah kabulkan doanya di masa kesulitan dan genting, hendaknya memperbanyak doa (ketika) di masa lapang (H.R atTirmidizi, dihasankan oleh Syaikh al-Albany).
Seperti Nabi Yunus yang di masa susah ( dalam perut ikan) berdoa kepada Allah, Allah pun kemudian memberi jalan keluar baginya. Hal itu dikarenakan dulunya saat hidup di daratan (di masa lapang) Nabi Yunus sering melakukan sholat, sehingga Allah selamatkan ia ketika kesulitan, sehingga tidak sampai mati di dalam perut ikan.
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ (143) لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (144)
Kalaulah ia tidak termasuk orang yang dulunya banyak bertasbih (sholat), niscaya ia akan tetap tinggal di perutnya (hiu) hingga hari dibangkitkan (Q.S as-Shoffaat:143)
Sebarkan :