-----Original Message-----
From: Ilham Rizqi Sasmita <irs@puls...>
Sender: pulsa@yaho...
Date: Thu, 27 Jan 2011 19:33:03
To: <pulsa@yaho...>
Reply-To: pulsa@yaho...
Subject: [pulsa] [OOT] Semut, Laba-Laba dan Lebah
Semut, Laba-Laba dan Lebah
Oleh: Prof. H.M. Quraish Shihab
Tiga binatang kecil menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Quran,
yaitu Al-Naml (semut), Al-’Ankabut ( laba-laba), dan Al-Nahl (lebah).
Semut menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon,
binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan
usianya tidak lebih dari satu tahun. Kelobaannya sedemikian besar sehingga
ia berusaha – dan seringkali berhasil – memikul sesuatu yang lebih besar
dari badannya, meskipun sesuatu tersebut tidak berguna baginya.
Dalam surah Al-Naml antara lain diuraikan sikap Fir’aun, juga Nabi Sulaiman
yang memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia pun sebelum
dan sesudahnya. Ada juga kisah raja wanita yang berusaha menyogok Nabi
Sulaiman demi mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya.
Lain lagi uraian Al-Quran tentang laba-laba: Sarangnya adalah tempat yang
paling rapuh (QS 29: 41), ia bukan tempat yang aman, apa pun yang berlindung
di sana atau disergapnya akan binasa. Jangankan serangga yang tidak sejenis,
jantannya pun setelah selesai berhubungan seks disergapnya untuk dimusnahkan
oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat
saling memusnahkan. Demikianlah kata sebagian ahli. Sebuah gambaran yang
sangat mengerikan dari sejenis binatang.
Akan halnya lebah, memiliki insting yang – dalam Al-Quran – “atas perintah
Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal” (QS 16: 68),
dan sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar tidak
terjadi pemborosan dalam lokasi. Yang dimakannya adalah kembang-kembang dan
*tidak seperti semut yang menumpuk-numpuk makanannya*, lebah mengolah
makanannya dan hasil olahannya adalah lilin dan madu yang sangat bermanfaat
bagi manusia. Lilin digunakan untuk penerang dan madu – kata Al-Quran –
dapat menjadi obat yang menyembuhkan. *Lebah sangat disiplin, mengenal
pembagian kerja, dan segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya*.
Lebah tidak mengganggu kecuali yang mengganggunya, bahkan sengatannya pun
dapat menjadi obat.
Sikap hidup manusia seringkali dibandingkan dengan berbagai jenis binatang.
Jelas ada manusia yang “berbudaya semut”, yaitu menghimpun dan menumpuk ilmu
(tanpa mengolahnya) dan materi (tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya).
Budaya semut adalah “budaya menumpuk” yang disuburkan oleh “budaya mumpung”.
Tidak sedikit problem masyarakat bersumber dari budaya tersebut. pemborosan
adalah anak kandung budaya ini yang mengundang hadirnya benda-benda baru
yang tidak dibutuhkan dan tersingkirnya benda-benda lama yang masih cukup
indah untuk dipandang dan bermanfaat untuk digunakan. Dapat dipastikan bahwa
dalam masyarakat kita, banyak sekali semut yang berkeliaran.
Entah berapa banyak jumlah laba-laba yang ada di sekitar kita, yaitu mereka
yang tidak lagi butuh berpikir apa, di mana, dan kapan ia makan, tetapi yang
mereka pikirkan adalah “siapa yang akan mereka jadikan mangsa.”
Nabi Saw mengibaratkan seorang Mukmin sebagai lebah, sesuatu tidak merusak
dan tidak pula menyakitkan: “tidak makan kecuali yang baik, tidak
menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak
dan tidak pula memecahkannya".
Dapatkah kita menjadi ibarat lebah, bukan semut apalagi laba-laba?
Sumber: Lentera Hati
--
ID-ASPINDO: JBR-100505
PIN: 22B67513